Bagian Lima:
“Jangan Tanya Saya: Biarkan Orang Lain Menilai“ (Part II)
- Mas’ud (Tokoh Pemuda, Desa Lambego, Kec. Pasimarannu):
Beberapa proyek yang ada di Pasimarannu adalah pembangunan SMP di Lambego, SMA di Bonerate, pengaspalan jalan ke Miantuu, dimana masyarakat sudah merasakan manfaatnya. Begitupun dengan jalan tani serta dermaga yang berasal dari dana APBN, tapi kami tahu bahwa itu atas usaha Bapak Bupati. Begitupun dengan PLTS. Dari 6 Desa, 5 Desa mendapatkan masing-masing 50 PLTS, kecuali Desa Majapahit karena mendapatkan layanan PLTD. Masyarakat bersyukur karena tidak perlu membeli minyak tanah. Masyarakat sangat merasakan besarnya anggaran pembangunan dibanding (Bupati) periode sebelumnya. Saya yang sering membantu masyarakat, mengalami sendiri bagaimana Bupati sering memberikan bantuan.
Mengenai besarnya anggaran yang dialokasikan di kepulauan – tentunya tanpa melupakan anggaran di daratan utama Selayar, diakui oleh semua pihak, baik teman maupun lawan politik Pak Bupati.
Dan mayoritas masyarakat kepulauan berharap, agar bisa dilanjutkan.
- Muh. Asdar (Penggiat Koperasi, Dusun Ujung, Desa Bontobulaeng, Pasimasunggu Timur):
Selain jalan lingkar Jampea, masyarakat juga mendapatkan bantuan mesin katinting, pupuk, bibit, dan kini sudah menghasilkan. Pencetakan sawah baru di Pasimasunggu dan pembuatan bendungan irigasi di Doda’ sudah membuahkan hasil. Di Doda’, Mangatti dan sebagian Benteng bahkan sudah dua kali panen. Koperasi Desa juga sudah eksis dan membantu petani dalam penyediaan pupuk dan dapat menyanggah harga beras. Dengan adanya koperasi, harga beras yang sebelumnya Rp. 1000 / liter, kini sudah Rp. 2.500 / liter. Masyarakat juga terbantu dengan adanya bantuan hand tractor. Yang sangat berkesan di masyarakat adalah, “gampang”nya Bupati memberikan sumbangan, baik untuk mesjid maupun untuk kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan. Walau beberapa proyek mengalami “kendala” dalam pelaksanaan di lapangan sehingga pengawasan harus lebih diperketat di masa mendatang, tapi harus diakui bahwa pembangunan di kepulauan, terutama di Pasimasunggu dan Pasimasunggu Timur sangat pesat dibanding dengan Bupati – Bupati sebelumnya. Banyak masyarakat yang bahkan berkata: “Sallomo rie istilah Bupati selama inni, na ngura inni tompa na lohe pembangunan” (sudah lama ada Bupati, kenapa baru (periode) sekarang banyak pembangunan?).
- Patta (Petani Kopra, Lembang Mate’ne Timur, Desa Lembang Mate’ne, Kecamatan Pasilambena):
Pembuatan jalan dari Lato’dok ke Barumbung betul-betul sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Ekonomi masyarakat mulai menggeliat, sebab akses ke pasar menjadi mudah, baik dengan kendaraan sendiri maupun menggunakan jasa ojek. Bahkan sekarang banyak yang mengangkut kopra dari kebunnya dengan menggunakan ojek. Kalau sebelumnya menggunakan kuda – dimana untuk 4 karung (karung beras – pen) yang beratnya sekitar 1 kwintal, sewanya sekitar 20 – 30 ribu sesuai jaraknya; dengan motor, sewanya tinggal sekitar 15 ribu untuk 1 kwintal, yang biasanya dipadatkan dalam 3 karung, dimana sewa per karungnya 5 ribu.
Yang sangat luar biasa adalah pembangunan dermaga Kawau, Desa Garaupa yang akan menjadi dermaga terbesar di Selayar sebab lebarnya 9 m, panjang lebih 300 m, dan konon anggarannya sekitar 30 m. Dan itu atas perjuangan Bapak Bupati di Jakarta.
Walau belum selesai, dimana tahap pertama yang saya dengar sudah menghabiskan 10 m, tetapi kemegahannya sudah kelihatan. Sekarang bahkan sudah dijadikan tempat hiburan dan rekreasi, sambil memancing. Kalau selesai, tentu bisa disandari fery dari Benteng atau dari dan ke Nusa Tenggara, sehingga akan berdampak secara ekonomi bagi masyarakat Pasilambena dan kepulauan secara umum. Bagi saya, keterlaluangki tu pulonni ampa gele rihargai to la pausahaang injoki inni (kita orang pulau sangat keterlaluan apabila tidak menghargai orang yang telah mengupayakan semua ini).
- Dg. Maloga (Peternak, Pengga, Desa Pamatata, Kecamatan Bontomatene):
Selain mesin katinting dan pemipaan air bersih ke rumah – rumah, di Desa ini ada juga bantuan kambing untuk kelompok ternak. Mereka berkelompok dan memiliki tempat penggembalaan bersama, tetapi masing – masing anggota kelompok memiliki kandang sendiri.
Dalam pembagian kambing untuk peternak, tidak ada konflik yang terjadi di masyarakat. Memang banyak yang mengajukan (permintaan bantuan) kambing dan yang dapat belum semuanya. Tapi masyarakat bisa memahami bahwa anggaran terbatas. Mereka juga menyadari bahwa suatu hari nanti mereka akan mendapatkan giliran (diberi bantuan) juga.
Jadi tidak benar bahwa ada konflik dan ada isu negatif seputar bantuan itu. Bahkan saya sebagai salah seorang anggota kelompok ternak, adalah yang terakhir dipanggil untuk mengambil kambing setelah yang lain sudah terlebih dahulu dipanggil memilih. Saya sempat kecewa, karena yang tersisa kecil-kecil semua. Tapi istri saya minta bersabar dan mensyukuri yang ada, sebab pasti ada hikmahnya.
Alhamdulillah, bagian kambing kami yang 3 ekor sudah besar dan sudah ada yang melahirkan. Bahkan kami sudah menikmati hasilnya karena sudah sempat menjual seekor. Padahal kambing yang lain ada yang lumpuh, sakit-sakitan kena sola’, bahkan ada yang mati. Mungkin itu buah dari kesabaran dan kesyukuran kami. Kami bersyukur kepada Tuhan karena diberi rezki, dan berterima kasih kepada Bapak Bupati karena memberi kami bantuan kambing.
Apa yang kami alami itu mengajarkan, bahwa kalau kita tidak tahu bersyukur dan berterima kasih, kambing kita bisa mati.
