Takkan Lahir Pelaut Ulung Di Laut Yang Tenang: Bagian IV (Part II)

Bagian Empat:

“Impian Bernama Selayar” (Part II)

Selain untuk pengembangan ikan hias, Kepulauan Selayar juga sangat potensial untuk pengembangan ikan karang. Ikan karang sebagai indikator kesuburan terumbu karang banyak ditemukan di pantai timur dan barat Pulau Selayar, Pulau Polassi, Pulau Tambolongan, Pulau Kayuadi, Pulau Jampea, Pulau Kalao (Lambego), Pulau Bonerate, Pulau Kalaotoa, Pulau Madu dan Pulau Karompang, dimana species ikan karang yang umum ditemui adalah kelompok ikan Chaetodontidae (Butterfly Fishes), Apogonidae (Cardinal Fishes) dan Scaridae (Parrot Fishes).

Dalam rangka mempercepat program – program strategis dimaksud, Pemerintahan Daerah telah dan akan terus melakukan langkah-langkah peningkatan fasilitas pendukung yang siap menunjang percepatan program di atas, antara lain:

A. Peningkatan Infrastruktur

  • Meningkatkan pembangunan dan rehabilitasi jalan dan jembatan, termasuk jalan lingkar timur daratan Selayar, hotmix semua jalan kabupaten, peningkatan jalan lingkar Jampea, termasuk pembangunan dan peningkatan jalan di kecamatan kepulauan
  • Meningkatkan rehabilitasi dan pembangunan dermaga di kecamatan kepulauan sehingga bisa disandari fery
  • Meningkatkan frekuensi penyeberangan antar pulau dan daerah
  • Meningkatkan kontinuitas dan frekuensi penerbangan dari dan menuju Bandara Aroeppala dan menjadikannya Bandara Transit
  • Meningkatkan cakupan air minum serta kualitas sanitasi wilayah permukiman
  • Mengembangkan penyulingan air laut di semua pulau yang tidak ada sumber air tawarnya
  • Meningkatkan rehabilitasi kawasan kumuh
  • Meningkatkan pembangunan tanggul pengaman pemukiman, pantai dan sungai di semua wilayah rawan bencana.
  • Menuntaskan pembangunan pabrik es di kecamatan kepulauan
  • Memfasilitasipembangunan SPBU di kecamatan daratan dan kepualauan

B. Peningkatan Pasokan Pembangkit Listrik
Di saat daerah lain tidak perlu repot-repot memikirkan soal listrik, bahkan mungkin bisa mengabaikannya sama sekali karena jaringan listrik PLN sudah menjangkau sampai ke pelosok-pelosok, namun sebagai kabupaten kepulauan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi, tentu saja tantangan di sektor ketenagalistrikan bukanlah perkara mudah. Saat ini, karena faktor usia, mesin pembangkit PLN telah mengalami kehilangan daya dari kemampuan maksimumnya (derating) sekitar 23%. Inefisiensi ini berdampak pada borosnya pemakaian bahan bakar dan kemungkinan sering terjadinya kegagalan operasi yang akan menyebabkan pemadam listrik. Tidak heran bila PLN mengalami kerugian rata-rata Rp2 milyar per tahun. Sementara itu, dengan total daya mampu sebesar 4.310 kW dan daya tersambung sebesar 9.767.900 VA atau setara dengan 8.302.715 W, serta beban puncak sebesar 3.260 kW, tampak bahwa keandalan pasokan sistem pembangkit yang ada kurang memadai. Dengan melihat jumlah calon pelanggan yang masuk daftar tunggu sudah mencapai sekitar 500 sambungan, penyediaan pasokan listrik jangka pendek merupakan sebuah tuntutan yang tidak bisa dihindari.

Performa sistem pembangkit PLD yang ada di Ujung Jampea, Kayuadi, dan Bonerate, yang masing-masing berkapasitas 100 kVA, tidak ada bedanya. Inefisiensi mesin membuat hasil penjualan daya hanya cukup untuk ongkos bahan bakar dan gaji karyawan. Dengan kondisi seperti ini, sangat sulit menambah jumlah pelanggan dengan kapasitas mesin yang rendah, terlebih lagi penambahan jaringan baru mengingat perkampungan umumnya saling terpisah. Padahal calon pelanggan daftar tunggu di kepulauan juga kian panjang.

Tantangan sektor ketenagalistrikan di daerah-daerah yang tidak terjangkau jaringan PLN dan PLD, terutama di pulau-pulau kecil, tentu lebih berat lagi. Mesin pembangkit tenaga disel memang telah menjadi solusi jangka pendek, namun karena berbiaya mahal, pasokannya tidak maksimal. Dalam sehari rata-rata hanya beroperasi selama 6 jam. Jadi ketersediaan pasokan listrik belum mampu mengakselerasi aktivitas ekonomi, karena baru sebatas untuk penerangan di malam hari.

Sektor ketenagalistrikan tentu saja akan menjadi isu yang jauh lebih penting lagi jika dikaitkan dengan rencana percepatan pembangunan dan peluang investasi. Sebagai contoh kasus, DEPO BBM di Pamatata membutuhkan 105 kVA atau kira-kira sama dengan sambungan ke seratus rumah penduduk. Bisa dibayangkan besar daya yang dibutuhkan nantinya untuk menunjang aktivitas ekonomi di sektor industri perikanan, pertanian, pariwisata, atau jenis industri lainnya.

Berdasarkan kondisi ini, sehingga Syahrir Wahab member perhatian besar terhadap sektor ini, dan telah direncanakan bahwa seluruh daratan Selayar akan terjangkau layanan PLN, dan seluruh kecamatan kepulauan akan ditingkatkan melalui layanan PLTD dan PLTS. Tahun 2010, telah direncanakan pembangunan PLTU Batubara dengan kapasita2 2 x 3 MW (6000 KW) atau lebih besar dari daya PLN saat ini.

C. Peningkatan Aksesibilitas Antarpulau
Hingga saat ini, aksesibilitas antarpulau masih menjadi kendala utama dalam mendorong aktivitas ekonomi dan percepatan pembangunan di kepulauan, termasuk penyelenggaraan pelayanan publik. Kendala ini akan lebih terasa lagi pada musim ombak besa. Jika dicermati lebih dalam, rendahnya aksesibilitas antarpulau di musim yang berlangsung sekitar empat bulan ini ternyata berdampak luas. Bukan saja mobilitas manusia dan barang yang terhambat, namun juga secara relatif menimbulkan stagnasi aktivitas ekonomi dan pembangunan di kepulauan. Pelayanan publik pun ikut terhambat, seperti, antara lain, tenaga kesehatan kesulitan menjangkau wilayah kerjanya dan tenaga guru yang kesulitan kembali ke tempat kerjanya.

Persoalan ini akan teratasi dengan adanya sarana transportasi reguler antarpulau yang dapat beroperasi normal sepanjang tahun. Untuk itu, perhatian utama di sektor transportasi adalah upaya bagaimana fery bisa sandar di semua kecamatan kepulauan.

D. Peningkatan Kapasitas SDM
Selain mencetak tenaga terampil melalui Balai Latihan Kerja (BLK), program beasiswa dan bantuan pendidikan diharapkan mampu mencetak SDM yang berkualitas, terutama untuk bidang yang berhubungan dengan sumberdaya alam, antara lain, bidang pertanian, perikanan, pariwisata dan migas.

Untuk bidang pertanian dan perikanan, diharapkan dalam 3 sampai 4 tahun ke depan, Selayar sudah memasuki era industrialisasi berdasarkan sumberdaya alam lokal, oleh sumberdaya manusia lokal.

Dengan demikian, diharapkan, dalam 5 tahun ke depan, Kabupaten Kepulauan Selayar mampu mandiri.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>