Takkan Lahir Pelaut Ulung Di Laut Yang Tenang: Bagian IV (Part I)

Bagian Empat:

“Impian Bernama Selayar”

Syahrir Wahab termasuk tokoh yang mampu berkomunikasi secara baik. Kendati bukan seorang orator ulung, konsep pemikirannya dituangkan dalam kata dan kalimat sederhana dan jernih sehingga mudah dicerna.

Kemampuan berbicara bukanlah segala-galanya, seperti beo yang bisa mengucapkan kata-kata dengan indahnya dan kemudian kita kagum.

Kendati sebagian orang menganggapnya kaku, tidak menciutkan nyalinya untuk berbuat yang terbaik untuk daerahnya.

Syahrir Wahab tidak saja serius memberikan pelayanan cepat, tetapi juga dalam merencanakan program strategis yang akan dilaksanakan secara bertahap (gradual). Membaca buku Tenang-Tenang Menghanyutkan (2005), bisa disimpulkan, bahwa sebagai birokrat, Syahrir Wahab mempunyai visi yang jauh ke depan.

Merujuk John P. Kotter (Leading Change; 1997), visi adalah gambaran realitas masa depan yang menarik dan logis (rasional). Visi bagi seorang politisi sangatlah mendasar, karena merupakan energi utopia untuk mendepa masa depan secara lebih rasional. Visi ini juga bisa diartikan sebagai tempat berpijak, fondasi, atau semacam elan visioner yang memungkinkan seseorang merumuskan langkah-langkahnya secara nyata bagi perbaikan sebuah sistem apapun di masa depan.

Satu hal yang paling dihindarinya, adalah kata-kata “besar” dengan retorika dan argumentasi tanpa praktek. Yang diyakini dalam kesederhanaannya adalah, “kita lebih sering menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan”.

Tidak heran bila Syahrir Wahab mengedepankan praktek dan kerja nyata, dan bukan 3 M. 3 M seperti yang kita kenal adalah; Memuji-muji kemajuan daerah lain, Memuji potensi yang kita miliki dan Mono’maki (berhenti sampai di situ saja).

Padahal tak dapat disangkal, anugerah terbesar Kepulauan Selayar adalah karena letaknya yang sangat strategis. Letak geografis Kepulauan Selayar yang berada pada jalur pelayaran regional, nasional bahkan internasional, belum mampu memberikan nilai tambah, baik sebagai pusat transit / tujuan arus barang, penumpang dan jasa. Padahal, kondisi geografis seperti ini, seharusnya mampu menjadikan Kepulauan Selayar, antara lain sebagai Pusat Distribusi Logistik.

Di bidang pertanian, lahan tidak produktif tidak kurang dari 29% luas wilayah daratan Selayar. Juga termasuk lahan tidur yang masih sangat luas, ditambah dengan sistem pertanian yang masih tradisional. Sementara itu, kelapa, sebagai salah satu komoditas perkebunan dominan di daerah kepulauan ini, produksinya terus menurun karena lambatnya peremajaan. Di sisi lain, perkebunan jeruk keprok Selayar, kondisinyapun hampir sama.

Di bidang perikanan, walaupun perairan Selayar memiliki potensi perikanan yang berlimpah, tapi hingga saat ini, masih lebih banyak dinikmati oleh nelayan dari luar Selayar. Begitupun dengan luas baku lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal, baik untuk usaha tambak maupun untuk budidaya rumput laut.

Di bidang Pariwisata, walau Takabonerate telah menjadi ikon daerah ini dan keberadaannya telah sangat dikenal, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional, namun hingga kini, belum mampu menjadi daerah tujuan wisata (DTW) bahari. Begitupun dengan potensi wisata alam (darat), wisata budaya dan sejarah.

Sedang di bidang Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral, Kepulauan Selayar juga memiliki potensi pasir besi dan kandungan minyak yang belum terkelola.

Berdasarkan potensi – potensi yang ada di atas, maka Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar bekerja sama dengan Menko Perekonomian dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan Kajian Percepatan Pembangunan dan Peningkatn Investasi Daerah Tertinggal (Studi Kasus Kabupaten Kepulauan Selayar).

Dalam blueprint (cetak biru) tersebut, paling tidak ada 4 (empat) kebijakan yang telah dicanangkan, yaitu :

  • Selayar sebagai Bandar Niaga di KTI;
  • Selayar sebagai Pusat Logistik dan Industri Perminyakan di KTI;
  • Selayar sebagai Pusat Destinasi Pariwisata Bahari Andalan Nasional; dan
  • Selayar sebagai Pusat Pengembangan Perikanan Terpadu.

1. Selayar Sebagai Bandar Niaga di KTI
Selayar dicanangkan sebagai Bandar Niaga di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dengan pertimbangan, antara lain:

  • Posisi geografis Selayar yang berada pada titik tengah Indonesia, dengan sebaran potensi di dalamnya meliputi: potensi perikanan, pariwisata, minyak bumi dan gas, serta potensi SDA lainnya;
  • Sebagai Bandar Niaga, akan menciptakan efisiensi dan nilai tambah secara nasional dalam melayani aktivitas niaga antara wilayah – wilayah di KTI dengan wilayah-wilayah di KBI demikian pula sebaliknya;
  • Akan menurunkan inflasi dalam pelaksanaan distribusi kebutuhan bahan pokok dari KBI ke KTI; dan
  • Sebagai Bandar Niaga, diharapkan akan mampu melayani pasokan barang ke dan dari KTI, yang lalu-lintas transportasinya melalui Selat Selayar. Selain itu, Bandar Niaga ini akan melayani pemenuhan kebutuhan basecamp supply industri perminyakan di KTI.

2. Selayar sebagai Pusat Logistik dan Industri Perminyakan di KTI
Selayar sebagai Pusat Logistik dan Industri Perminyakan di KTI, didasarkan pertimbangan strategis, antara lain:

  • Selama ini satu-satunya daerah yang melayani kebutuhan logistik bagi industri perminyakan di Indonesia adalah Surabaya.
  • Berdasarkan kondisi di atas, untuk pengembangan industri perminyakan di wilayah KTI termasuk industri perminyakan yang akan dibangun di Selayar, pasokan logistiknya dapat didistribusikan melalui Selayar;
  • Menciptakan efisiensi secara nasional dalam proses pendistribusian logistik perminyakan, karena dekat dengan sumber dan kawasan industri perminyakan di wilayah KTI;
  • Selayar memiliki potensi cadangan minyak bumi dan gas yang sangat besar melalui 3 (tiga) blok, yaitu; (1) Blok Karaeng, berlokasi di lepas pantai Pulau Selayar bagian barat; (2) Blok Selayar, berlokasi di lepas pantai Pulau Selayar bagian timur; (3) Blok Kambuno, berlokasi di lepas pantai Pulau Selayar bagian timur.

3. Selayar sebagai Pusat Destinasi Pariwisata Bahari Andalan Nasional
Potensi sumberdaya alam Selayar sangat memungkinkan untuk pencanangan tersebut, sebab didukung oleh:

  • Potensi wisata alam yang banyak dan sudah dikenal luas, diantaranya Taman Nasional Laut Takabonerate;
  • Hamparan pasir putih di sepanjang pantai pulau – pulau Selayar bagian barat;
  • Kawasan terumbu karang di hampir seluruh wilayah laut Selayar yang cocok untuk wisata diving dan snorkeling.

4. Selayar sebagai Pusat Pengembangan Perikanan Terpadu
Dengan panjang garis pantai sekitar 670 km serta jumlah pulau sebanyak 130 buah dan kawasan terumbu karang tidak kurang dari 4.400 hektar yang tersebar di beberapa tempat, sangat potensial untuk kegiatan penangkapan ikan dan budidaya. Di samping itu pula, Selat Selayar juga merupakan jalur utama pelayaran nasional sehingga daerah ini sangat cocok dikembangkan menjadi pusat industri perikanan. Kabupaten Kepulauan Selayar dengan luas perairan sekitar 25.200 km2 memiliki sumberdaya perikanan yang melimpah, misalnya untuk perikanan tangkap, yaitu;

  • Potensi Ikan Pelagis 6.380 ton / thn
  • Potensi Ikan Demersal : 11.309 ton / thn

Jenis ikan pelagis besar yang ditangkap di perairan Selayar adalah ikan Madidihang (Tuna Ekor Kuning), ikan Cakalang, dan ikan Layang.

Potensi lestari ikan Madidihang sekitar 759,6 ton / tahun, ikan Cakalang sekitar 1.266 ton / tahun, ikan Layang sekitar 401,4 ton / tahun, serta potensi lestari ikan pelagis lainnya sekitar 3.903 ton / tahun (Studi Pendugaan Potensi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan, 2006).

Dengan tingkat produksi tertinggi ikan pelagis besar pada tahun 2008 yang baru sebesar 1.734 ton, berarti, pemanfaatan baru mencapai 44 % dari potensi lestarinya (Potensi Lestari adalah 80 % dari total pendugaan potensi keseluruhan).

Untuk perairan Laut Flores dan Teluk Bone yang berhubungan langsung dengan perairan Kepulauan Selayar dengan luas kurang lebih 340.000 km2, luas untuk perikanan pelagis sekitar 333.000 km2 sehingga penyebaran ikan pelagis dianggap merata dengan kepadatan sekitar 0,25 ton / km2 dan untuk perikanan demersal sekitar 7.000 km2 dengan kepadatan sekitar 0,21 ton / km2.

Untuk perikanan budidaya, Kabupaten Kepulauan Selayar masih sangat potensial untuk kegiatan budidaya laut dan kegiatan budidaya air payau (tambak).

Beberapa jenis komoditas yang potensil untuk dibudidayakan, antara lain: (1) rumput laut: Eucheurma sp; (2) Crustacea: udang windu dan kepiting; (3) Echinodermata: teripang; (4) Mollusca: kerang darah, kerang hijau, dan kerang mutiara; (5) Ikan:bandeng, kerapu, kakap, dan baronang. Selain itu, beberapa jenis mollusca lain yang potensial untuk dibudidayakan adalah kima, lola, dan abalone.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>