Bagian Dua:
“Jangan Biarkan Masyarakat Menunggu”
Di bidang peningkatan profesionalisme aparat Pemerintah Daerah, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kinerja aparatur pemerintah daerah menunjukkan trend yang semakin membaik. Upaya peningkatan profesionalisme ini dicanangkan oleh Syahrir Wahab di awal kepemimpinannya, melalui 4 (empat) Tertib dan 4 (empat) Sukses; Tertib Administrasi Kepegawaian, Tertib Administrasi Keuangan, Tertib Administrasi Perlengkapan & Peralatan, Tertib Peraturan Perundang – Undangan; Sukses Pelayanan Kepada Masyarakat, Sukses Peningkatan Pendapatan Daerah, Sukses Pelaksanaan Pengawasan dan Sukses Pelayanan Pembangunan. Hal ini dapat diamati dari penerapan prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik (good governance) dan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan, serta semakin responsifnya pemerintah daerah atas berbagai aspirasi dan tuntutan masyarakat.
Untuk peningkatan pembangunan infrastruktur, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, telah terjadi peningkatan yang sangat pesat pada semua sektor. Pada sektor transportasi, seluruh ruas jalan di kota Benteng dan sebagian besar ruas jalan poros Pamatata – Pattumbukang, serta beberapa ruas jalan kabupaten telah ter-hotmix. Di samping itu, telah dilakukan peningkatan kualitas jalan lingkar pulau Jampea sepanjang 60 km, Bonerate dan pembangunan jalan penghubung antar Desa, jalan tani, setapak serta paving block. Di Pamatata, juga sedang dibangun pelabuhan laut yang nantinya akan mengintegrasikan Kepulauan Selayar ke dalam Sistem Transportasi Laut Nusantara (STLN). Demikian pula perluasan dan perpanjangan landasan Bandar Udara Aroeppala di Padang, dari 900 m menjadi 1500 m, sehingga nantinya bisa didarati pesawat yang berukuran lebih besar.
Selanjutnya, pada sektor kelistrikan, kapasitas pembangkit PLTD milik PLN, meningkat dari 3.288 kW pada 2005 menjadi 5.836 kW pada 2009. Pada saat yang sama, pemerintah daerah juga memberikan bantuan mesin pembangkit untuk wilayah-wilayah yang belum atau sulit terjangkau jaringan listrik, termasuk pemberian PLT Surya yang tersebar di 42 desa di wilayah kepulauan sebanyak 2.304 unit.
Di sektor ketersediaan air minum, sumber air baku PDAM telah bertambah dari empat menjadi tujuh buah, pembuatan 31 sumur bor dan pembangunan 10 unit instalasi penyulingan air laut menjadi air siap minum.
Di bidang pengembangan sumber daya air untuk pengairan, terjadi peningkatan jumlah bendung dan embung, dari 24 buah pada akhir 2006 menjadi 47 buah pada akhir 2009. Saluran irigasi bertambah dari 23.630 m pada akhir 2006 menjadi 38.592 m pada akhir 2009.
Selanjutnya pada sektor kesehatan, Syahrir Wahab juga telah melakukan beberapa terobosan. Untuk menjamin terpenuhinya hak untuk hidup sehat dan menjamin akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu, salah satu terobosan besar di tahun kedua pemerintahannya, adalah diberlakukannya pelayanan kesehatan gratis melalui Surat Keputusan Bupati Kepulauan Selayar Nomor 146 tanggal 1 Juli 2006. Kebijakan Syahrir Wahab ini lebih cepat 2 (dua) tahun dari Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2008 tanggal 3 Juli 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Pelayanan Kesehatan Gratis di Provinsi Sulawesi Selatan. Dan menyadari bahwa kesehatan disamping sebagai hak asasi juga sebagai “investasi” dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka dalam 5 (lima) tahun kepemimpinannya telah dilakukan peningkatan alokasi pembiayaan pembangunan kesehatan, peningkatan sarana dan parasarana kesehatan serta peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia tenaga kesehatan.Dalam hal pembiayaan kesehatan, Syahrir Wahab hanya butuh waktu 2 (dua) tahun untuk meningkatkan pembiayaan kesehatan menjadi Rp. 25.385.439.842 pada tahun 2007 dari Rp. 13.829.411.000 pada tahun 2005.
Dalam hal ketersediaan sarana parasarana pelayanan kesehatan masyarakat, Syahrir Wahab telah berhasil meningkatkan type Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selayar dari type D menjadi type C disertai pembangunan gedung baru yang megah, bahkan tergolong mewah untuk kategori Rumah Sakit yang berada di sebuah daerah kepulauan. Disamping itu pula, dalam 5 (lima) tahun kepemimpinannya, telah dibangun 3 buah Puskesmas baru, 16 buah Pustu dan 9 buah Poskesdes. Pada saat yang sama, peralatan kesehatan juga terus dilengkapi dan dimodernisasi.
Jumlah tenaga kesehatanpun meningkat dari 320 orang pada tahun 2005 menjadi 383 orang pada tahun 2008. Tenaga Dokter Umum sebagai salah satu jenis tenaga kesehatan yang masuk dalam kategori “sangat dibutuhkan “ oleh masyarakat Selayar juga berhasil ditingkatkan dari 13 orang pada tahun 2005 menjadi 22 orang pada tahun 2008, sehingga semua Puskesmas telah memiliki minimal 1 (satu) orang Dokter. Dokter Ahli (spesialis) dari 0 (nol) orang pada tahun 2005 menjadi 5 (lima) orang pada tahun 2007, yakni Spesialis Bedah, Mata, THT, PK dan Anastesi.
Di samping itu, sejak Juni 2009, Pemerintah Daerah juga bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin menjadikan Rumah Sakit Umum Selayar sebagai resident (tempat pergiliran tugas) Ahli Anak, Kebidanan, dan Kulit Kelamin.
Dalam menjamin ketersediaan dan kenyamanan tenaga medis untuk betah dalam menjalankan tugasnya di Selayar, telah diberikan tunjangan khusus sebesar Rp.10.000.000 per bulan, fasilitas mobil dan rumah dinas bagi Dokter Ahli, serta tunjangan sebesar Rp. 1.000.000 per bulan bagi para Dokter Umum dan Dokter Gigi. Bagi tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah kepulauan, diberikan insentif khusus.
Sedang dalam rangka peningkatan pengetahuan dan profesionalisme tenaga kesehatan, telah diberikan bantuan pelatihan, penelitian, serta beasiswa bagi D3, S1 dan S2 serta pendidikan spesialis di bidang kedokteran, baik di dalam maupun di luar negeri. Tercatat ada 45 orang perawat dan 40 orang Bidan tamatan D1 yang disekolahkan untuk mendapatkan ijazah D3, 14 orang S1, 5 orang S2. Khusus untuk dokter spesialis, sedang disekolahkan 4 orang Dokter Rumah Sakit Umum Selayar untuk Spesialis Kulit dan Kelamin, THT, Anak dan Bedah. Diharapkan, setelah dokter yang mengikuti pendidikan ini kembali, akan dapat mendukung upaya peningkatan Type RSUD Selayar dari Type C ke Type B. Disamping itu pula, 21 orang tamatan SMA dari keluarga miskin di wilayah kepulauan disekolahkan pada sekolah D3 keperawatan dan D3 kebidanan.
Selain kepedulian terhadap kesejahteraan dan kualitas keilmuan para tenaga kesehatan, Syahrir Wahab juga memberikan perhatian besar terhadap mutu layanan kesehatan kepada masyarakatnya, baik di Rumah Sakit maupun Puskesmas. Syahrir Wahab tidak segan – segan “memarahi” Kepala Rumah Sakit dan Kepala Dinas Kesehatan apabila ditemukan pelayanan yang tidak ramah atau membebani masyarakat dengan hal – hal yang tidak semestinya. Bahkan tidak tanggung – tanggung, Syahrir Wahab pernah “memulangkan” seorang Dokter Ahli yang terbukti memberikan pelayanan tidak optimal, bersikap kasar serta membebani pasien dengan pembayaran yang tidak sewajarnya.
Upaya strategis dan sistematis yang telah dikembangkan oleh Syahrir Wahab dalam 5 (lima) tahun pemerintahannya – khususnya dalam upaya penyediaan input dalam pelayanan kesehatan seperti diuraikan di atas, telah membawa dampak besar dengan meningkatnya outcome pembangunan kesehatan, diantaranya adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat Selayar. Penderita gizi buruk yang berjumlah 26 orang pada 2005 turun menjadi 6 orang pada 2008. Angka harapan hidup meningkat dari 66,90 tahun pada 2005 menjadi 67,47 tahun pada 2008. Persalinan yang ditangani bidan/tenaga kesehatan meningkat, di mana pada 2005 baru mencapai 58,68% dan pada 2008 telah mencapai 67,26%. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate / IMR) turun dari 10,39 per 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun 2004 menjadi 9,8 per 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun 2009.
Ke depan, sesuai dengan Visi, Misi dan Kebijakan Pokok yang diusungnya pada Pemilukada 2010, Syahrir Wahab kembali ingin melakukan terobosan besar dalam rangka percepatan pencapaian “Sehat Bagi Seluruh Masyarakat Selayar”. Syahrir Wahab akan mengembangkan Sistem Kesehatan Daerah (SKD) yang menjadikan “Sehat” sebagai paradigma, bukan “Paradigma Setengah Sehat” atau bahkan “Paradigma Sakit”, yakni sebuah paradigma dan sistem nilai yang lebih mengedepankan upaya-upaya promotif (peningkatan) dan preventif (pencegahan) tanpa melupakan upaya kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (rehabilitasi). Konsep yang bersifat integral dan holistik ini dimaksudkan untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat, hidup dengan perilaku yang sehat dan dalam lingkungan yang sehat pula.
Untuk mewujudkan Visi Sehat yang kini lazim disebut “The New Health Vision” (Visi Baru Kesehatan) itu, akan dilakukan “Revitalisasi Puskesmas” dalam rangka pemberdayaan dan penguatan fungsi Puskesmas. Puskesmas, sebagaimana diharapkannya, harus benar-benar dapat menjalankan fungsinya sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, dan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat. Syahrir Wahab menyadari sepenuhnya bahwa target-target yang ada dalam MDGs dan Visi Indonesia Sehat, seperti penurunan AKI, Angka Kematian Bayi (AKB), gizi buruk, wabah penyakit menular, sesungguhnya bisa dipenuhi dengan pola-pola pencegahan yang langsung melibatkan masyarakat. Sehingga yang dibutuhkan saat ini dan ke depan adalah memaksimalkan upaya-upaya tenaga kesehatan yang terjun langsung ke masyarakat.
Untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD), secara umum telah mengalami peningkatan secara sangat signifikan, yang antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang pada tahun 2005 hanya berjumlah 8 milyar lebih, sedang pada tahun 2009, telah menjadi 13 milyar lebih. Di sisi lain, pemerintah daerah berhasil mendapatkan saham pada Mini Depo BBM di Pamatata, sebesar 10 % tanpa harus melakukan penyertaan saham.
