Hal-hal yang spektakuler; melihat apa-apa yang kita tidak senangi, bergaul dengan orang-orang yang kita tidak sukai.
Manusia – kata orang arif, memang jenius; bisa menjaga keseimbangan dalam bergaul dan berinteraksi, di antara yang disenangi dan tidak dihormati, antara yang disenangi pada satu saat dengan yang tidak disenangi pada tiap saat, melakukan sesuatu yang tidak diinginkan pada satu saat, dan melakoni yang tidak disukai sepanjang hayat.
Hidup pada dasarnya adalah eksperimen, sebab kita harus hidup di satu sisi dan sebagai makhluk sosial di sisi yang sama. Maka dalam “hidup” itu sendiri, “diri” kita bukan cuma “satu”. Diri kita bisa berarti “diri” yang muncul di depan cermin, “diri” sesuai dengan penilaian orang, “diri” yang kita inginkan (have to be), atau “diri” yang kita kagetkan dengan keputusan dan tingkah laku yang kita sendiri tidak tahu.
Maka peran kitapun, bisa dengan lakon yang kita inginkan, atau dengan lakon yang penonton harapkan, walau banyak yang mendapatkan kekuatan dari teriakan penonton. Seorang aktor akan begitu bersemangat melakoni perannya di depan banyak penonton, kebalikan dari lakon yang harus diperankan di depan penonton terbatas. Tidak heran bila kita terasa sulit untuk memerankan satu peran sandiwara di depan istri.
Untuk itu, kita butuh eksperimen. Sebab manusia, ya kita ini, mustahil menjadi “laki-laki” setiap waktu dan zaman, mustahil punya “satu sikap” dalam hidup, sebagaimana mustahil melakoni satu aktifitas sepanjang hayat, yang tidak menyenangkan pula.
Ketakutan kita akan eksperimen telah membuat kita melakoni hidup tanpa warna, tanpa gairah, terutama ketika harus melakukan pekerjaan yang tidak disenangi, tidak untuk satu saat saja, tapi untuk setiap saat.
Dalam kondisi ini, kita telah kehilangan suka cita hidup dan kehidupan, menjadi jongos dari sebuah sistim dimana kita tidak berdaya di dalamnya, bahkan menjadi penjilat, terutama dalam mempertahankan peran tunggal yang coba kita lakoni.
Churchil berpaling menjadi pelukis ketika umurnya sudah 40 tahun, dan ia belum pernah memegang kuas sebelumnya. Elvis Presley sempat beberapa kali berganti profesi – termasuk menjadi sopir truk, sebelum menjadi King of Rock n Roll. Dr. John L. Mc Clure meninggalkan profesinya sebagai psikolog dan ikut berperang di hutan-hutan Amerika Tengah dan kemudian menulis buku Soldier Without Fortune (1987) yang kemudian menjadi best seller. Tapi mereka ini tahu – dengan pasti, hidup adalah pertaruhan atas sebuah atau sederetan eksistensi, kata lain dari eksperimen. Kalah? “Mampuslah orang-orang yang kalah!”, kata seorang pemuda Perancis ketika Roma menduduki negerinya.
Yang kalah memang mampus. Tapi lebih mampus lagi kalau mampus justru sebelum seseorang itu kalah. Dan yang paling mampus, adalah ketika seseorang itu takut kalah, sebab disadari atau tidak, kita – manusia itu, tidak lagi jenius. Dan ketika kita kehilangan “suratan” ini, peran kita hanya akan berputar-putar bagaimana membungkus diri – atau menebalkan muka dengan sangat memiriskan, dengan casing yang tidak sesuai.
El Gezirah, Januari 1991
(beberapa kalimat sudah mengalami penyesuaian dari teksnya yang asli)


