(1) Kita, Manusia Itu

Hal-hal yang spektakuler; melihat apa-apa yang kita tidak senangi, bergaul dengan orang-orang yang kita tidak sukai.

Manusia – kata orang arif, memang jenius; bisa menjaga keseimbangan dalam bergaul dan berinteraksi, di antara yang disenangi dan tidak dihormati, antara yang disenangi pada satu saat dengan yang tidak disenangi pada tiap saat, melakukan sesuatu yang tidak diinginkan pada satu saat, dan melakoni yang tidak disukai sepanjang hayat.

Hidup pada dasarnya adalah eksperimen, sebab kita harus hidup di satu sisi dan sebagai makhluk sosial di sisi yang sama. Maka dalam “hidup” itu sendiri, “diri” kita bukan cuma “satu”. Diri kita bisa berarti “diri” yang muncul di depan cermin, “diri” sesuai dengan penilaian orang, “diri” yang kita inginkan (have to be), atau “diri” yang kita kagetkan dengan keputusan dan tingkah laku yang kita sendiri tidak tahu.

Maka peran kitapun, bisa dengan lakon yang kita inginkan, atau dengan lakon yang penonton harapkan, walau banyak yang mendapatkan kekuatan dari teriakan penonton. Seorang aktor akan begitu bersemangat melakoni perannya di depan banyak penonton, kebalikan dari lakon yang harus diperankan di depan penonton terbatas. Tidak heran bila kita terasa sulit untuk memerankan satu peran sandiwara di depan istri.

Untuk itu, kita butuh eksperimen. Sebab manusia, ya kita ini, mustahil menjadi “laki-laki” setiap waktu dan zaman, mustahil punya “satu sikap” dalam hidup, sebagaimana mustahil melakoni satu aktifitas sepanjang hayat, yang tidak menyenangkan pula.

Ketakutan kita akan eksperimen telah membuat kita melakoni hidup tanpa warna, tanpa gairah, terutama ketika harus melakukan pekerjaan yang tidak disenangi, tidak untuk satu saat saja, tapi untuk setiap saat.

Dalam kondisi ini, kita telah kehilangan suka cita hidup dan kehidupan, menjadi jongos dari sebuah sistim dimana kita tidak berdaya di dalamnya, bahkan menjadi penjilat, terutama dalam mempertahankan peran tunggal yang coba kita lakoni.

Churchil berpaling menjadi pelukis ketika umurnya sudah 40 tahun, dan ia belum pernah memegang kuas sebelumnya. Elvis Presley sempat beberapa kali berganti profesi – termasuk menjadi sopir truk, sebelum menjadi King of Rock n Roll. Dr. John L. Mc Clure meninggalkan profesinya sebagai psikolog dan ikut berperang di hutan-hutan Amerika Tengah dan kemudian menulis buku Soldier Without Fortune (1987) yang kemudian menjadi best seller. Tapi mereka ini tahu – dengan pasti, hidup adalah pertaruhan atas sebuah atau sederetan eksistensi, kata lain dari eksperimen. Kalah? “Mampuslah orang-orang yang kalah!”, kata seorang pemuda Perancis ketika Roma menduduki negerinya.

Yang kalah memang mampus. Tapi lebih mampus lagi kalau mampus justru sebelum seseorang itu kalah. Dan yang paling mampus, adalah ketika seseorang itu takut kalah, sebab disadari atau tidak, kita – manusia itu, tidak lagi jenius. Dan ketika kita kehilangan “suratan” ini, peran kita hanya akan berputar-putar bagaimana membungkus diri – atau menebalkan muka dengan sangat memiriskan, dengan casing yang tidak sesuai.

El Gezirah, Januari 1991

(beberapa kalimat sudah mengalami penyesuaian dari teksnya yang asli)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mabuk Kata

The writer is a person with something urgent to say. Ini kata-kata Hugo Candwell kepada murid-muridnya di Oundle.

All good writing, seperti dikatakan kemudian oleh F. Scott Fitzgerald, is swimming under water holding your breath.

Menulis, memang berawal dari ”sesuatu” yang harus disampaikan lewat kata-kata. Sebab kata-kata, bisa langsung menyentak dan jejaknya bisa panjang.

Vaclac Havel – penulis puisi dan drama yang kemudian menjadi Presiden Chekoslovakia sebelum negera ini pecah menjadi Cheko dan Slovakia, ketika menerima Friedenpreis des Deutcshen Buchandels, Hadiah Perdamaian Asosiasi Penjual Buku Jerman pada 15 Oktober 1989 mengatakan; kata-kata bisa membuktikan diri lebih hebat dari kekuatan 10 divisi tentara.

Barangkalai ia memang sedikit berlebihan kalau tidak bisa dikatakan pongah. Tapi ia memang pernah hidup ”di negara tempat kata-kata bisa menjebloskan orang ke penjara”.

Vaclac Havel di sini ingin mengatakan bahwa kata-kata adalah juga senjata – dan itu adalah senjata untuk menyerang.

Di sini, barangkali kita tidak sejauh itu. Kita hanya membutuhkan kata-kata bisa dikeluarkan, ketika semua diam – atas apapun yang terjadi. Dan kata-kata itu seyogyanya harus bebas.

Manusia, kata filsuf eksistensialis Perancis, Jean Paul Sartre, adalah ”condemned to be free”, walau kita sering menolak ”kutukan” itu.

Dalam perjalanannya yang panjang, kata-kata memang sempat memunculkan pepatah: Kata lebih tajam dari pedang. Juga ada: Mulut kamu adalah harimau kamu. Kata-kata bisa menusuk, sekaligus bisa ”menerkam” penuturnya. Atas semua itulah sehingga kita lebih banyak diam?.

Muncullah kemudian kata-kata: Kalau berbicara adalah perak, maka diam adalah emas!. Salah besar. Pantas saja banyak begajul di negeri ini. Apapun yang terjadi, ya diterima. Diam.

Padahal, menulis, kata Anis Mansour dalam ”Gurabau Fi Kulli Ashrin”, adalah ”menghidupkan yang mati”, atau dengan kata lain, menulis adalah mu’jizat.

Apabila seorang penulis capek, ia menulis; apabila gembira, ia menulis,; apabila tidak menemukan kata, ia mencari kata; apabila tidak puas dengan ”arti”, ia mencari kata. Apapun yang dialami, something urgent harus disampaikan, dan semoga bisa ”menghidupkan”.

Maka kata di samping ”penyakit”, juga adalah obat, dan untuk itu kita semestinya dan sudah seharusnya merindukan kata.

Dahulu, para penyair mengatakan bahwa khamar adalah penyakit, dan untuk sembuh dari khamar ialah dengan menambah khamar.

Penyair Al-A’syaa berkata:

” … telah aku teguk satu gelas dengan nikmat …

dan aku mengobatinya dengan segelas yang lain”.

”Penyakit” yang dengan sedikit kata-kata, mungkin harus kita obati dengan banyak berkata-kata.

Atau seperti yang sering dilantunkan oleh Abu Nuwas (Abu Nawas):

” berhentilah engkau mengejekku

sesungguhnya ejekan itu adalah godaan bagiku

obatilah aku dengan apa yang engkau sebut penyakit … ”.

Mari mabuk ….

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Rumah Kata

Bicaralah agar aku melihatmu … !. Ini kata-kata Aristoteles kepada murid-muridnya. Tentu bukan karena saat itu sedang mati lampu.

Tidak mudah memang untuk berbicara, baik oral maupun melalui tulisan. Tapi toh harus dimulai.

Seorang teman bahkan pernah mengatakan bahwa lebih banyak orang yang melahirkan bayi dari pada yang melahirkan kata-kata, dalam pengertian, kata-kata yang bisa “dibagi” dengan orang lain.

Rumah Kata ini memang hanya awal, dengan banyak “belajar” dari orang lain. Beberapa orang memang menolak cara ini dan menganjurkan agar setiap orang menulis dengan gayanya sendiri. Tapi Vergile, sang penulis Latin menolak argumentasi itu ketika menulis; “seorang yang makan daging kerbau tidak akan berubah menjadi kerbau”.

Kami percaya, bahwa “belajar” pada orang lain hanyalah proses. Pada satu waktu, setiap orang akan menemukan “gaya”nya sendiri. Untuk itu kita tidak harus berhenti belajar dan belajar. Inilah yang menginspirasi Sir Walter Raleigh untuk terus menulis dan menulis, sehingga ketika beliau diangkat menjadi Professor Ilmu Sastra Inggris di Oxford, beliau bisa dengan bangga berkata: “Saya tak sanggup menulis buku yang setingkat dengan karya Shakespeare. Tetapi saya berhasil menulis buku karya saya sendiri”.

Tidak mudah memang melahirkan kata-kata. Tapi pada awal dan akhirnya, kita semua harus memulai, paling tidak agar orang lain bisa “melihat” kita, yang mungkin dengan apa adanya.

Moh. Haikal, penulis besar Timur Tengah pernah berkata: “Tidak banyak orang bisa menjadi penulis, lebih banyak orang bisa menjadi Mentri”.

Untuk itu, mari kita mulai ……

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sepatah Kata

Selamat Datang …

Ini merupakan Blog saya …

Sampai saat ini, kami masih melakukan persiapan.

Melalui sarana ini saya ingin berbagi banyak cerita yang sudah saya catat dalam pikiran dan perbuatanku. Semoga anda yang mengunjungi halaman ini dapat menjadi teman berbagi yang baik, sebagaimana saya akan selalu berusaha untuk menjadi teman berbagi yang baik untuk anda.

Terima kasih.

Posted in Uncategorized | Leave a comment