-Paradoks-

Pagi ini cuaca cerah. Sepagi ini Neesa sudah pulang ke rumah. Iya, baru saja ia pulang dari berkeliling kampung. Sekedar menghirup udara segar, sambil mengendarai sepeda motor, mengeluarkan asap knalpot, membuat udara tak lagi sesegar sebelumnya, sebuah paradoks. Sama paradoksnya dengan banyak hal yang sedang berkelebat di kepalanya.

Sang Paradoks

Neesa memasuki pekarangan rumah, sambil menenteng sebungkus jajanan pasar, ia dapat saat singgah di perkampungan tadi, beberapa potong roti. Ia mengacungkan jajanan itu kepada ayahnya, berikut sesungging senyum yang nampak terpaksa. Entah berapa lama sudah, ia selalu berbohong untuk ekspresinya yang satu ini, senyum di wajah, sesembrawut apapun hatinya, sebuah paradoks.

Neesa menggandeng ayahnya duduk di teras rumah, mengambil dua cangkir teh hangat yang ia buat sebelum keliling kampung tadi. Yah, tehnya sudah hangat, tidak panas lagi seperti saat diseduh pertama kali, tadi pagi. Tergesa menyeruput, lalu mengambil sepotong kue, seraya mempersilahkan ayahnya untuk menikmati jajanan yang sama. Ibu, ntahlah… sepagi ini ibu sudah sibuk dengan dapur mininya, menyiapkan sarapan.

Hari ini Sabtu. Nessa libur. Potongan terakhir roti goreng itu dimakan bersamaan dengan menekan tombol power dari laptopnya, “Aku ingin menulis” gumamnya. Kesibukan di kantor membuat Neesa tak punya banyak waktu untuk sekedar menulis bahasa sederhana, puisi, sindiran, apalagi artikel. Berbulan-bulan ia membujuk hatinya untuk sabar, menunggu waktu yang tepat untuk menuangkan ide, menulis. Hingga saat itu tiba, saat ada sedikit waktu luang untuk menulis, saat yang bersamaan pula, ide itu menguap tanpa sisa, tak ada lagi yang bisa ditulisnya. Iya, Neesa hanya memandang kosong laptopnya, tak tau hendak menulis apa dan mulai dari mana. Neesa juga telah mengambil kertas-kertas yang selama ini ia tumpuk saja, untuk menuliskan idenya, buat jaga-jaga kalau-kalau suatu saat punya waktu luang untuk menulis. Tapi ide-ide itu hampa. Tak lagi punya napas. Neesa lupa, ide yang ini nyambungnya ke mana, ide yang itu maksudnya apa. Semua serba tanggung, kalau tidak mau dibilang nol. Lagi-lagi sebuah paradoks.

Yah, itulah ternyata yang sedang berbaring di otak neokorteks Neesa, “paradoks”. Neesa sejatinya mengerti, kehidupan ini memang seringkali paradoks. Inginnya begini, adanya begitu. Maunya begitu, tapi jadinya begini. Bukankah kehidupan seperti itu niscaya?. Pikiran nakalnya bilang, jika Allah memberiku seperti yang ku mau, hidup ini jadi tak asyik, ngga seru, ngga nendang, ngga nyastra. Sebuah pikiran konyol, hidup ini bukan maen-maen, Non…

Neesa benar, untuk menjadi sang juara, seseorang harus tangguh menjadi pejuang. Paradoks-nya, seseorang justru jarang mendapatkan apa yang ia perjuangkan, tapi kehidupan justru menghadiahkannya sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Lebih, selalu lebih besar dari apa yang diinginkan. Konon, seorang artis, sebut saja A, yang menulis kisah hidupnya dalam sebuah biografi. “Saya dulu tidak pernah bercita-cita menjadi artis, tapi orang tua saya sangat ingin saya menjadi artis. Saat yang bersamaan, saya bercita-cita kuat untuk menjadi muslimah kaffah. Saya memilih mempertahankan jilbab saya. Orang tua saya marah, saya dicecar, diabaikan, dibiarkan begitu saja. Hingga suatu ketika saya mendapatkan peran sentral di sebuah film layar lebar, bergenre dakwah, yang disutradarai oleh seorang ustadz. Alhamdulillah… saya mendapat hadiah yang lebih indah dari perjuangan saya”.

Akhirnya, kembali pada rencana langit, ntah berapa episode lagi yang harus Neesa mainkan, untuk sampai pada cita-cita mulianya. Ia justru khawatir, di ujung setapak sana, cita-cita itu tak lagi bisa disebut mulia. Malaikat bisa saja menolong, tapi setan juga bisa membius sadarnya, berbelok dari cita-cita mulia. Hanya waktu yang mampu menjawab, akankan ia menjadi pejuang, atau hanya berhenti sebagai pecundang.

 

Makassar, 23 Juli 2011

Lencana hebat, hanya layak disematkan untuk pejuang-pejuang hebat

1 Response to "-Paradoks-"

Leave a Comment

*