Perempuan, darimana kekuatanmu berasal?

Satu hal yang membuat saya ragu saat pertama kali berniat menulis artikel ini, adalah karena saya perempuan. Subjektif? Mungkin. Tapi saya mencoba untuk tidak melakukannya. Meski terlalu sulit saat orang lain yang menjadi hakim penilainya.

Yah, tulisan ini sengaja saya dedikasikan kepada semua perempuan, saya perlu mengucap terima kasih, curhatan kalian, air mata kalian, keluh kesah kalian, menjadikan saya sedikit pandai, pandai meningkahi setiap takdir yang menyapa hidup saya. Tidak. Saya tidak ingin mengatakan bahwa laki-laki itu tidak penting, tidak membawa manfaat bagi hidup saya, sama sekali tidak demikian. Tapi saya sungguh-sungguh ingin berbagi, dengan teman-teman perempuan, bahwa yang mereka anggap kelemahan, justru adalah kekuatan. Dan agar para lelaki tahu, air mata kami bukan senjata, tapi niscaya.

“Apa kamu pikir dengan menangis, semua yang hilang bisa kembali?” begitu kata seorang Laki-laki suatu ketika.

“Ah, dasar perempuan cengeng, bisanya cuma nangis”

Dan banyak kalimat-kalimat lain yang pernah mampir ke telinga.

Apa sesungguhnya yang menjadikan perempuan menjadi sosok yang kuat? Pertanyaan klise, jawabannya mungkin juga sudah banyak yang tahu. Sebanyak kisah perempuan-perempuan hebat yang melatari suksesnya seseorang. Sebut saja Imam Syafi’i, satu dari empat imam madzhab, pribadi yang Masya Allah cerdas, hidup dari tempaan seorang ibu yang hebat. Single parent istilah kita sekarang. ‘Umar bin Abdul Aziz – salah seorang khalifah, juga tumbuh dan sukses oleh Tarbiyah seorang ibu. Hingga tak jarang di masyarakat, ketika ditemui sebuah keluarga yang sukses, ditanyakan, siapa yang berdiri di belakangnya? Bisa dipastikan jawabannya adalah nama seorang perempuan, entah dia ibu, atau bisa jadi seorang istri.

Suatu ketika saat berbincang dengan ayah, entah iseng, entah sengaja ingin menyemat pesan khusus kepada saya, agar saya lebih menghargai ibu, beliau bertanya, kamu tahu arti ungkapan ‘Surga di bawah telapak kaki ibu?’. Enteng, sekenanya saya menjawab, sebagaimana yang selama ini saya tahu, ”Iya, saya tau. Berbakti kepada ibu, bahwa untuk mendapatkan surga Allah, saya harus menjadi anak yang taat dan patuh pada ibu, sepanjang perintahnya tidak bertentangan dengan perintah Allah” diplomatis. Pasti benar, sambut batin saya.

Kalo begitu kamu salah, potong ayah. Makna kalimat itu adalah bahwa baik dan buruknya seorang anak, itu terpulang pada ibunya. Ibu-lah yang mengajar anaknya berbagai perilaku, jika ibunya mengajar kebaikan maka baiklah anak itu, tetapi jika sebaliknya, maka celakalah anak itu. Entah kenapa saya kurang yakin dengan penjelasan ayah yang adalah jebolan pesanten itu. Saya menimbang-nimbang, hingga keesokan harinya, hal serupa dibahas dalam sebuah ceramah agama yang disiarkan di televisi. Jawabannya sama. Akhirnya saya percaya. Dua pendapat sebangun. Maafkan saya ayah, sulung ayah ini berani meragukanmu.

Lepas dari fungsinya yang maha berat itu, saya ingin menarik garis keluar dari fungsi-fungsi itu. Apa yang menjadikan perempuan begitu kuat? Bukankah laki-laki juga bisa melakukannya? Apa yang membuat mereka terbatas? Dan nyaris tidak ada kisah (kalo tidak mau disebut ‘memang’ tidak ada) seorang yang hebat dan ternyata di belakang kehebatannya adalah seorang laki-laki. Ketika lagi-lagi saya konfirmasi kepada ayah, beliau bilang, ‘dalam sejarah juga tidak pernah dikisahkan seperti itu.’

Jadi apa yang sesungguhnya membuat perempuan begitu kuat? Sebagai perempuan tentu saya punya beberapa jawabannya, meskipun tidak semua. Karena masih banyak peran perempuan yang belum pernah saya lakoni, termasuk menjadi ibu. Semoga tak lama lagi. hehehe

Berikut akan saya paparkan sebab para perempuan itu tahan badai,

  1. Perempuan memiliki air mata

Amboii… inikah rupanya yang menjadikan mereka kuat. Ada sisi di mana beban itu lepas, bak tak pernah ada mendung di sana. Itulah hujan air mata. Biarlah air mata menganak sungai, yang penting jiwa ini bersih karena guyurannya. Tak sedikit, air mata yang menyelamatkan hati yang mulai gelap. saat suami yang dicinta dipanggil menghadap-Nya, mengasuh putra putri sebatang kara, dipaksa takdir menjadi single parent. Saat kekasih yang dicinta berpaling, tenggelam berkelana mencari damai di hati juwita lainnya, tak berbilang segala janji membuat nelangsa. Saat segala sakit karena putra putri hanya memuja sang Papa yang tiap hari berseragam rapi dengan dasi melintang, menafikan sang Mama yang sedari pagi menari di dapur kecilnya,menyiapkan ini itu untuk purta putri tercinta. Saat segala sayang disalahartikan, bahkan saat ternyata seorang perempuan terjebak menjadi racun di rumah kecil perempuan lain.

Yah, air mata. Air matanya-lah teman abadi. Tersungkur dalam pesujudan kepada Rabb-nya juga diantar oleh basah air mata. Perempuan-perempuan itu justru sanggup berpikir sangat jernih ketika air matanya tumpah.

Tak heran, banyak bahkan mungkin semua psikolog akan mengatakan ‘menagislah Bu, menagislah jika itu membuat ibu merasa lega’ pada semua pasien dengan sindrom yang cukup berat. Subhanallah…

Sampai di sini saya bertanya, apakah laki-laki tidak pernah menangis? Entahlah, tapi percaya atau tidak, saya yang tidak pernah percaya laki-laki bisa menangis, akhirnya pernah juga melihat mereka menangis. Bukan seorang, tapi beberapa orang. Tapi apa maknanya? Saya pikir ini bukan ruang untuk menghakimi mereka, i’m sorry Pah…

Maka menangislah… jika itu menenangkanmu setelahnya. Menagislah… jika itu menganugerahkan kekuatan baru setelah sujud panjangmu di hadapan-Nya. Menangislah… jika itu membuka jalan lapangmu untuk melanjutkan kerasnya hidup.  Menangislah… jika itu menguatlan langkahmu memenangkan mereka, yah mereka yang kau sayangi, suami, anak-anak, keberhasilan mereka, dan senyuman mereka. Kuatkanlah kesabaranmu, dengan kesabaran yang tiada batasnya.

 

  1. Perempuan menyukai detail

Ini kekuatan lain yang perempuan punya. Coba saja minta seorang laki-laki mencari kancing baju yang hilang, menggelinding di bawah mesin jahit. Ringan ia akan menjawab setelah sejenak mengitar pandang “Belinya di mana sih Bu, saya beliin aja deh, daripada repot nyari-nyari.” Sesuatu yang membuat hati perempuan tergelitik, “Dicari dulu kalii… daripada keluar cuma beli sebuah kancing, yang belum tentu bisa dapat yang sama dengan yang hilang”

aaahhhh…. mereka memang beda, meski sama-sama punya solusi. Saya tersenyum untuk itu. Sekali-kali saya juga perlu berpikir seperti laki-laki, gumam saya. Tapi perempuan, bagaimanapun bentuknya, selalu suka dengan detail, menyiapkan, memiliki, memperhatikan sesuatu secara detail, hingga sulit baginya melewatkan sesuatu. Bahkan saya terheran-heran ketika seorang ibu bisa paham, saat anaknya yang sudah menginjak usia kuliah, ‘gelisah’ karena (maaf) ingin buang hajat. Saya histeris “Bagaimana Bude Tau???” teriak saya waktu itu, melihat sepupu tiba-tiba lari ke belakang setelah siap dengan ranselnya untuk berangkat kuliah.

Maka perempuan, sejanggal apapun hari-hari yang dilewatinya pasti bisa terasa. Jika sesuatu berubah dari biasa, ‘alarm’nya akan berbunyi dan menyala. Curiga pasti ada yang tak beres. Anak tiba-tiba murung, tak diketahui sebabnya. Suami tak lagi ramah menyapa. Teman kantor yang tiba-tiba rajin menelepon. Atau mungkin kekasih yang tiba-tiba banyak memberi perhatian, sungguh sesuatu yang tak biasa.

Perempuan, selalu dengan detail. Entah ia memang mencatat dalam diary, atau mencatatnya dalam hati, itu tak penting. Yang penting mereka terlalu sering ingat, akan hal-hal yang lawan jenisnya anggap sepele. Sepertinya itu naluriah. Tak perl dipelajari. Memang dari sono-nya. Seseorang pernah bertanya kepada saya “Kenapa kamu selalu tahu kalau saya sedang berbohong?” Jawabannya mudah, “karena tatapan matamu berbeda saat kamu jujur dan berbohong.” Sepertinya jawaban itu masuk akal. Sampai-sampai saking tak inginnya dia bohong, suatu ketika dia memilih ‘lari’ dari hidup saya, tentu dengan kebohongan yang tak pernah ia katakan. Takut barangkali. Pengecut, lebih tepatnya.

 

  1. Perempuan itu double expression

Ah, yang terakhir ini barangkali yang bisa dibilang jauh dari subjektivitas. Jawaban paling rasional, mengapa perempuan begitu kuat menanggung beban hidup. Ah, meski kita semua tau tak berbilang banyaknya perempuan cengeng yang sungguh-sungguh cengeng. Banyaknya perempuan yang ‘maha merusak’ tatanan hidup. Perempuan yang harusnya menjadi saudara, justru menikam tak karuan perihnya. Tapi perempuan-perempuan model ini, di sisi lain adalah jalan bagi perempuan lain mengenyam nikmatnya hidangan surga.

Secara genetik, perempuan itu disandikan dengan XX dan laki-laki disandi dengan XY.  Mengapa XX? Karena kedua kromosomnya sama. Kromosom ke-23 inilah yang akhirnya menjadi pembeda laki-laki dan perempuan. Mengapa perempuan begitu kuat? Karena dia mempunyai dua sifat keperempuanan sekaligus, yang tersimpan dalam kedua kromosom X-nya (double expression). Sementara laki-laki, sebelah kromosomnya adalah X dan sebelah yang lain adalah Y.

Kromosom XX memberikan pengaruh besar. Karena ia adalah kromosom seks. Tempat di mana gen-gen keperempuanan disandikan. Kekuatannya menjadi berlipat-lipat tatkala harus diekspresikan pada saat yang sama. Itulah juga yang menjadi jawaban sementara, mengapa perempuan yang harus mengandung, bukan laki-laki. Selain karena soal organ yang berbeda, ternyata faktor genetik ini juga menjadi penyebabnya. Wallahu a’lam…

 

My Sweet office, 9 Januari 2012

Kudedikasikan tulisan ini untukmu ibu, maafkan jika tak pernah membuatmu tersenyum bangga…

Posted in Dagelan Sewu by Alin Liana. No Comments